Artikel Keislaman


Edit

Penjelasan tentang Wahidiyah

Pengantar Redaksi PPSSNH

Tulisan ini, dikutip tanpa ada penambahan dan pengurangan dari buku Polaritas Sektarian: Rekonstruksi Doktrin Pinggiran", sebuah buku hasil kajian siswa mutakharijin tahun 2007 Pondok Pesantren Lirboyo Kediri.

Imam Syafi'i menyatakan bahwa adab orang yang bermadzhab adalah:

Meyakini bahwa pendapatnya yang paling benar tetapi mungkin salah dan pendapat orang lain salah tapi mungkin benar.

Dengan adab ini kita tidak akan taasub /fanatis dengan kelompok kita, dan membuka diri dari koreksi madzhab lain. Karena itu, tulisan ini tidak dalam porsi mencaci atau semacamnya. Tetapi hanya sebagai pengukuh kebenaran menurut kacamata pendapat kami yang mungkin salah. Kami juga berharap pembaca yang tidak setuju khususnya para pengamal Wahidiyah, menggunakan tulisan ini sebagai media muhasabah, introspeksi diri, antara mengukuhkan pendapat atau merekonstruksi kembali pemahaman yang benar.

Pandangan tentang Wahidiyah, juga bukan serta merta menunjukkan kebencian pada shalawat, karena shalawat tidak identik dengan Wahidiyah. Pondok Pesantren Nurul Huda secara istiqamah juga menyelenggarakan pembacaan shalawat, sebagai perwujudan menjalankan perintah al Quran. Pandangan Pesantren Kami atas amalan Wahidiyah hanyalah sebagai koreksi atas 'cara baca'dan 'cara pandang' atas shalawat itu sendiri.

Jawaban Kyai Masduqi atas pertanyaan warga Nahdliyin di majalah Aula beberapa tahun yang lalu (edisi Desember 2001 dan edisi Juli 2003), disamping berdasar koreksi 'cara baca' juga berdasar 'dialog langsung dengan Kyai Abdul Majid sang pendiri' karena kebetulan, sebenarnya ketika shalawat Wahidiyah pertama kali diperkenalkan, Kyai Masduqi sempat mengantar Kyai Abdul Majid ke beberapa tempat di Malang. Namun setelah melihat ada beberapa hal yang dinilai kurang pas, Kyai Masduqi tidak lagi bersedia memfasilitasi.

Semoga tulisan ini tidak dinilai sebagai bahasa permusuhan tetapi lebih pada pengamalan ayat fa dzakkir fainna dzikra tanfa' almu'minin. Amin

Indeks

  1. Mengenal Wahidiyah
  2. Definisi Ajaran Wahidiyah
  3. Perintah Bersholawat
  4. Kejanggalan-Kejanggalan Wahidiyah

Mengenal Wahidiyah

Di Kediri, tepatnya sebelah barat sungai Brantas terdapat sebuah pesantren Kedunglo. Pesantren ini didirikan tahun 1901 oleh KH. Muhammad Ma'roef. Kiai Ma'roef pernah mengenyam pendidikan di pesantren Bangkalan Madura pimpinan KH. M. Kholil. KH. Ma'roef wafat tahun 1955 dan kepemimpinan pesantren dilanjutkan salah satu anaknya, KH. Abdul Madjid.

KH. Abdul Madjid lebih memfokuskan diri pada bidang tasawuf dengan mendalami kitab Al-Hikam. Menurut KH. Abdul Madjid tasawuf tidak hanya merupakan bahasa ilmiah, melainkan terapan kehidupan untuk menggapai makrifat Allah. KH. Abdul Madjid inilah pendiri sekaligus maestro sholawat Wahidiyah. Setelah KH. Abdul Madjid meninggal, usaha pengembangan tasawuf Wahidiyah dilanjutkan oleh KH. Abdul Latif Madjid.

Pada masa kepemimpinan KH. Abdul Latif Madjid inilah, popularitas pesantren Kedunglo semakin menanjak terutama terkait dengan ajaran sholawat yang terus mereka sebarkan sejak awal tahun 1964.

Berdasarkan catatan Republika, pengamal sholawat tersebut saat ini tidak terbatas di kalangan santri pesantren, tapi masyarakat luas dan jumlahnya telah mencapai puluhan ribu orang. Para pengamal ini tiap tahun berkumpul di Kedunglo untuk memperingati 1 Muharram dan Maulid Nabi serta mengadakan Mujahadah Qubro.1

Definisi Ajaran Wahidiyah

Yang dimaksud dengan ajaran Wahidiyah adalah Bimbingan praktis lahiriyah dan batiniyah di dalam mengamalkan dan menerapkan tuntunan Rasulullah yang mencakup bidang syariat, bidang hakikat, penerapan iman, pelaksanaan Islam, perwujudan ihsan dan pembentukan moralitas, peningkatan iman menuju kesadaran atau makrifat kepada Allah, pelaksanaan Islam sebagai realisasi dari ketakwaan terhada Allah, perwujudan ihsan sebagai manifestasi dari iman, Islam yang kamil (komprehensif), pembentukan moral untuk mewujudkan akhlaqul karimah, bimbingan praktis lahiriyah dan batiniyah di dalam memanfaatkan potensi lahiriyah yang ditunjang oleh pendayagunaan potensi batiniyah/spiritual yang balans dan serasi.

Menurut mereka, bimbingan praktis Wahidiyah telah meliputi segala bentuk kegiatan hidup dalam hubungan manusia dengan Allah yang disebut dengan hablum mina-Allah, hubungan manusia dalam kehidupan bermasyarakat sebagai insan sosial atau hablun minan-Nas , hubungan insan dengan keluarga, rumah tangga, dengan bangsa (international public relations) serta hubungan manusia dengan segala makhluk di lingkungan hidup pada umumnya.

Kemudian yang dimaksud dengan sholawat Wahidiyah sendiri adalah seluruh rangkaian amalan yang tertulis dalam lembaran solawat Wahidiyah. Ditambah dengan etika ketika mengamalkan sholawat Wahidiyah seperti lillah, billah, lirrasul, lil ghauts, bil ghaust, istihdlor tadzallul, tadlolul, tadlollum, iftiqor, ta'dzim, mahabbah, dan lain sebagainya.2

Nama Wahidiyah sendiri berasal dari salah satu nama Allah al-a'dzom yaitu Al-Wahidu. Kata al-Wahidu tersebut telah tertuang dalam permulaan sholawat Wahidiyah, “Allahumma ya wahidu ya ahad”.3

Perintah Bersholawat

Bukan rahasia lagi bahwa Nabi Muhammad memiliki derajat yang sangat istimewa di sisi Tuhan. Sebab itulah Allah memuji Nabi Muhammad di hadapan para malaikat, lalu para malaikatpun mengucapkan sholawat pada Nabi. Setelah itu Allah memerintahkan pada penduduk bumi untuk membaca sholawat atas Nabi agar pujian sholawat berkumandang dari alam langit dan alam bumi.4 Dalam al-Qur'an disebutkan:

إن الله وملائكته يصلون على النبي ياايها الذين ءامنوا صلوا عليه وسلموا تسليما

"Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bersholawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bersholawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya". (QS. Al-Ahzab: 56)

Sholawat Allah yang disampaikan pada Nabi berarti rahmat dan ridlo-Nya. Kemudian sholawat dari malaikat berarti mendoakan Nabi dan memohonkan ampun. Sedangkan sholawat dari manusia berarti mendoakan Nabi dan mengagungkan beliau.5

Dalam ayat tersebut Allah menyampaikan kalimat afirmatif "shollu (bersholawatlah kamu)" yang mengindikasikan kewajiban membaca sholawat kepada Nabi Muhammad saw. Kemudian setelah jumhurul fuqoha' melakukan penjelajahan intelektual akhirnya mereka menyimpulkan ada dua hukum dalam membaca sholawat: wajib dan sunnah. Namun mereka belum sepakat mengenai, dalam kondisi yang bagaimanakah sholawat diwajibkan?

Menurut Hanafiyah dan Malikiyah, hukum membaca sholawat pada tasyahud akhir adalah sunnah. Pendapat ini didukung oleh ulama' Madinah, ulama' Kuffah dan beberapa ulama' yang lain. Sedangkan dalam pandangan Hanafiyah dan Malakiyah membaca sholawat pada tasyahud awal bukanlah sesuatu yang masyru', bahkan jika sholawat itu sengaja dilakukan maka hukumnya makruh dan sholat yang dilakukan harus diulangi. Lalu menurut Hanafiyah jika sholawat tersebut dilakukan karena lupa maka harus melakukan sujud sahwi.

Jadi menurut perspektif mereka sholawat hanya wajib dilakukan sekali selama manusia hidup. Mereka mengatakan, "Seluruh orang yang beriman wajib membaca sholawat minimal sekali seumur hidup, sebab hal itu telah diperintahkan Allah dalam firman-Nya:

'ya ayyuhal ladzina amanuu shollu 'alaihi wa sallimuu taslimaa'.

Kemudian menurut ath-Thahawi, kita harus membaca sholawat ketika mendengar nama Nabi disebut.6

Sedangkan menurut Syafi'iyah dan Hanabilah, kita wajib membaca sholawat setiap kali melakukan sholat, tepatnya ketika melakukan tasyahud akhir. Selain itu, sholawat harus juga dibaca ketika takbir kedua daam sholat jenazah, dalam dua khutbah jum'at dan dua khutbah Hari Raya. Selain itu, sholawat tidak diwajibkan.

Kewajiban sholawat dalam tasyahud akhir juga menjadi pendapat para ulama sahabat dan ulama periode setelahnya. Di antara para sahabat adalah Abdullah bin Mas'ud, Abu Mas'ud Al-Badri dan Abdullah bin Umar. Kemudian diantara para tabi'in adalah Abu Ja'far Muhammad bin Ali, Sya'bi serta Muqothil bin Hayyan. Dan di antara ulama madzhab adalah Ishaq bin Rohawaih dan salah satu riwayat Imam Ahmad.

Dalam qoul jadidnya, Imam Syafi'i berpendapat bahwa hukum membaca sholawat ketika tasyahud awal dalam sholat yang berjumlah empat atau tiga rakaat adalah sunnah. Pendapat ini didukung oleh Ibnu Hubairoh dan Ajurri dari kalangan Hanabilah. Namun, jika sholawat dalam tasyahud awal tersebut ditinggalkan maka tidak akan berpengaruh pada keabsahan sholat. Hanya saja sunnah untuk diganti dengan sujud sahwi.7

Selain hal-hal yang telah disebutkan di atas, hukum membaca sholawat adalah sunnah dan merupakan salah satu ibadah yang utama. Keutamaan sholawat sering kali disampaikan oleh Nabi dalam sabda-sabda beliau, diantaranya:

أولى الناس بي يوم القيامة أكثرهم علي صلاة

"Orang yang paling utama dalam pandanganku kelak pada hari kiamat adalah orang-orang yang paling banyak membaca sholawat padaku."

من صلى علي صلاة صلى الله عليه بها عشرا وكتب له بها عشر حسنات

"Barangsiapa membaca sholawat kepadaku satu kali, maka Allah akan memberinya sepuluh sholawat dan sebab sholawat itu, Allah akan menuliskan sepuluh kebaikan".

من صلى علي صلاة واحدة صلى الله عليه عشر صلوات وحط عنه بها عشر سيئات ورفعه بها عشر درجات

"Barangsiapa membaca sholawat kepadaku satu kali, maka Allah akan memberinya sepuluh sholawat, menghapus sepuluh kejelekan dan meninggikan sepuluh derajat".

من صلى علي صلاة واحدة صلى الله عليه عشرا, ومن صلى علي عشرا صلى الله صلى الله عليه مائة, ومن صلى علي مائة كتب الله بين عينيه براءة من النفاق وبراءة من النار وأسكنه يوم القيامة مع الشهداء.

"Barangsiapa membaca sholawat kepadaku satu kali, maka Allah akan memberinya sepuluh sholawat. Barangsiapa membaca sholawat kepadaku sepuluh kali,maka Allah akan memberinya seratus sholawat. Barangsiapa membaca sholawat kepadaku seratus kali maka Allah akan (memerintahkan untuk) menuliskan di antara kedua mata orang tersebut tulisan: 'terbebas dari munafik dan terbebas dari neraka'. Dan kelak pada hari kiamat, Allah akan menempatkan orang tersebut bersama para syuhada".

إن الدعاء موقوف بين السماء والأرض لا يصعد منه شيء حتى تصلي على نبيك صلى الله عليه وسلم

"Sesungguhnya doa tertahan antara langit dan bumi. Doa tersebut tidak bisa naik sampai engkau membacakan sholawat atas Nabimu Sholaallahu 'alaihi wa sallam".

رغم أنف رجل ذكرت عنده فلم يصلل علي

"Terkudunglah hidung seseorang yang namaku disebut di sisinya dia tidak membaca sholawat kepadaku".

لاتجعلوا قبري عيدا وصلوا علي فإن صلاتكم تبلغني حيث كنتم

"Janganlah kalian menjadikan kuburku sebagai tempat perayaan. Bacalah sholawat kepadaku, sesungguhnya sholawat kalian akan sampai kepadaku, di manapun kalian berada".

البخيل من ذكرت عنده, فلم يصل علي

"Orang yang bakhil adalah orang yang namaku disebut di sisinya, kemudian dia tidak membaca sholawat kepadaku".

Kemudian Hadits yang menjelaskan mengenai lafadz sholawat sendiri disebutkan dengan riwayat yang variatif. Namun menurut para sahabat dan ulama pasca sahabat, lafadz sholaat tidak tergantung pada lafadz-lafadz yang manshus saja. Siapapun yang menguasai ilmu bayan, sehingga dia mampu menyampaikan beberapa makna dengan lafadz yang fasih, yaitu lafadz-lafadz yang menunjukkan betapa sempurnanya kemuliaan dan keagungan Nabi, maka dia diperbolehkan sholawat dengan lafadz tersebut. Hujjah yang mereka gunakan adalah Hadits riwayat Abdurrozak, Abd bin Humaid, Ibnu Majah dan Ibnu Marduwaih dari Ibnu Mas'ud:

Sesunggguhnya ia berkata, "ketika kalian mengucapkan sholawat atas Nabi maka perindahlah sholawat kalian. Sesungguhnya kalian tidak tahu, mungkin sholawat tersebut disampaikan pada Nabi. Kemudian para sahabat berkata, "Ajarilah kami!" Ibnu Mas'ud kemudian mengatakan : Ucapkanlah kalimat berikut:

اللهم اجعل صلواتك ورحمتك وبركاتك على سيد المرسلين وإمام المتقين وخاتم النبيين محمد عبدك ورسولك إمام الخير وقائد الخير ورسول الرحمة اللهم ابعثه مقاما محمودا يغبطه يه الأولون والآخرون اللهم صل على محمد كما صليت على إبراهيم وآل إبراهيم إنك حميد مجيد.8

Kejanggalan-Kejanggalan Wahidiyah

Cinta Rasul yang Disalahartikan

Sholawat, menurut Wahidiyah merupakan tanda cinta terhadap Rasul. Barangsiapa mencintai sesuatu pasti dia akan sering menyebutnya, mungkin begitulah prinsip mereka. Bahkan hal ini diakui oleh salah seorang pengamal sholawat Wahidiyah,

"Setelah saya rajin membaca bacaan yang diberikan oleh kawan saya itu, yaitu ya sayyidi ya rasulullah, semenjak itulah ada semacam getaran-getaran yang sangat dahsyat rasa cinta kepada Rasulullah saw".9

Sekarang mari kita kupas tentang bagaimana sebenarnya cinta Rasul dan bagaimana cara mencintai Rasul?

Mencintai Rasul merupakan salah satu dari pokok keimanan, dan kecintaaan tersebut harus disertai dengan kecintaan pada Allah. Kecintaan pada Allah dan pada Rasul harus menjadi prioritas, melebihi dari kecintaan kita pada orang tua, sahabat, kekasih, harta, tanah air, atau yang lain. Ringkasnya, cinta kita pada Allah dan rasul harus berada di atas segalanya. Dalam Al-Qur'an Allah berfirman;

قل إن كان ءاباؤكم وأبناؤكم وإخوانكم وأزواجكم وعشيرتكم وأموال اقترفتموها وتجارة تخشون كسادها ومساكن ترضونها أحب إليكم من الله ورسوله وجهاد في سبيله فتربصوا حتى يأتي الله بأمره.

"Katakanlah: 'jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.' Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik". (Q.S. at-Taubah : 24)

Perintah untuk mencintai Nabi dengan setulus-tulusnya, melebihi segala cinta kita pada apapun, juga disebutkan dalam hadits berikut;

لا يؤمن عبد حتى أكون أحب إليه من أهله وماله والناس أجمعين

"Seorang hamba tidaklah beriman sampai aku lebih dicintainya daripada keluarganya, hartanya, dan seluruh manusia."

Cinta yang disebutkan dalam hadits tersebut bukanlah cinta yang telah menjadi karakteristik manusia sebagai makhluk pencinta, melainkan cinta yang diusahakan. Contoh dari cinta tabiati (karakteristik) ialah kecintaaan manusia pada dirinya sendiri, siapapun secara naluriah pasti akan mencintai diri sendiri, demikianlah menurut Abu Sulaiman al-Khoththobi. Selanjutnya al-Khoththobi mengatakan, "cintamu kepadaku (Muhammad saw) adalah palsu sampai dirimu sirna, tenggelam dalam ketaatanmu kepadaku, sampai engkau lebih mementingkan keridlaanku daripada kesenangan pribadimu, walaupun untuk itu kau harus mengorbankan nyawamu".10

Ibnu Baththol dan al-Qodli 'Iyadh mengatakan, "Cinta dapat diklasifikasikan menjadi tiga bagian.

  • Pertama, cinta mengagungkan seperti rasa cinta anak pada kedua orangtuanya.
  • Kedua, cinta kasih sayang seperti kecintaan pada anak-anak kita.
  • Ketiga, cinta karena ada kesesuaian rasa dan karena pesona seperti kecintaan manusia pada umumnya.

Ketiga jenis cinta ini dapat kita asimilasikan dalam kecintaan pada Rasul".

Selanjutnya Ibnu Baththol mengatakan, "Makna dari hadits di atas ialah seseorang yang memiliki keimanan sempurna maka dia akan tahu bahwa hak Nabi lebih kuat dibandingkan dengan hak orangtua, anak, bahkan seluruh manusia. Sebab dengan lantaran nabi saw kita bisa selamat dari neraka dan mendapatkan secercah petunjuk dari jalan yang sesat". Kemudian al-Qodli 'Iyadl mengatakan, "di antara bukti kecintaan kita pada Nabi adalah ketika kita mau memperjuangkan sunnah-sunnah Nabi dan membela syariat beliau".11

Dalam sebuah riwayat Umar ra juga pernah mengungkapkan perasaan cintanya pada Nabi, "Wahai Nabi! Engkau lebih aku cintai dari segalanya, kecuali cintaku pada diriku sendiri". Nabi kemudian menolak cinta Umar ra, "Tidak wahai Umar! Sampai aku lebih Engkau cintai daripada dirmu sendiri". Umar ra kemudian mengatakan, "Demi Allah! Sekarang Engkau lebih Aku cintai daripada diriku sendiri". Nabi lantas bersabda, "Sekarang Engkau baru mencintaiku". Kecintaan kita pada diri sendiri, apalagi pada orang lain tidak boleh sampai mengalahkan kecintaan Kita pada Allah dan Rasul.

Setiap cinta harus ada pembuktian, cinta yang tidak disertai dengan bukti adalah bohong. Jika mengaku sebagai pecinta Rasul, lalu apa bukti kecintaan kita? Jangan sampai kita memiliki anggapan kosong, mengira mencintai Nabi, tapi sebenarnya itu tipuan setan belaka, karena ekspresi cinta dalam hati pasti akan tampak dalam perilaku. Oleh karenanya kita harus mengenal dan menguji kecintaan kita dengan memperhatikan beberapa indikasi dan bukti, lalu kembali bertanya, benarkan kita telah mencintai Nabi dengan sepenuh hati? Tanda-tanda cinta ini bisa kita ketahui dari ekspresi lahiriyah karena cinta adalah pohon yang abik, akarnya teguh, dan cabangnya menjulang ke langit, kemudian buahnya akan tampak dalam hati, lisan dan anggota tubuh. Oleh karenanya, perasaan cinta pasti dapat terbaca dari perilaku seseorang. Perilaku merupakan indikator, sebagaimana asap yang menunjukkan keberadaan api, ada asap pasti ada api.12

Pengakuan cinta seseorang bisa dibenarkan ketika perilakunya selalu sama dengan perilaku sang kekasih, sebab cinta adalah mengikuti segala perilaku sang kekasih. Dalam al-Qur'an disebutkan :

قل ان كنتم تحبون الله فاتبعوني يحببكم الله ويغفر لكم ذنوبكم

"Katakanlah : 'Jika Kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu". (QS. Al-Imron : 31)

Kita sering mengaku bahwa kita telah mencintai Rasul di atas segalanya. Pengakuan ini dapat kita uji kebenarannya ketika dalam waktu yang sama terjadi pertentangan antara perintah Rasul dan perintah lain yang lebih kita senangi. Jika kita lebih mendahulukan perintah Rasul maka pengakuan cinta tersebut merupakan pengakuan yang benar sebab Dia telah memprirotaskan Nabi di atas yang lain. Namun jika dia menuruti kesenangan pribadi dengan meninggalkan perintah Rasul maka pengakuan tersebut merupakan pengakuan yang dusta.13

Ya! Mengikuti apapun yang dikehendaki oleh kekasih, itulah hakikat cinta. Sehingga ketika kita ingin meraih cinta sejati kepada Rasul, kita harus mengikuti seluruh perintah dan sunnah-sunnah beliau, keudian melakukannya. Tidak cukup hanya dengan menyebut-nyebut nama beliau tetapi bodoh dan tidak mau tahu dengan perintah dan sunnah beliau. Cinta akan lebih berarti jika diekspresikan dengan tindakan, bukan hanya sekedar diucapkan atau mungkin hanya kadang-kadang saja menyebut nama kekasih, sebab cara yang paling tepat untuk mengingat kekasih adalah dengan anggota tubuh, tidak hanya dengan lisan.14

Rasa cinta pada Rasul akan tumbuh ketika kita mengetahui kesempurnaan Nabi, sifat-sifat beliau dan kehebatan syariat yang beliau bawa. Pengetahuan itu sendiri akan timbul ketika kita mengetahui kebesaran Dzat yang telah mengutus Nabi. Sesungguhnya kecintaan pada Allah tidak akan sempurna kecuali dengan mentaati-Nya, dan satu-satunya jalan untuk mentaati Allah adalah dengan cara mengikuti Rasul-Nya.

Karena cinta adalah mengikuti, maka cinta kepada Rasul diklasifikasikan menjadi dua bagian. Pertama wajib, yaitu mengikuti kewajiban-kewajiban yang diperintahkan oleh Nabi, tidak melaksanakan larang-larangan beliau, dan ridlo dengan perintah dan larangan tersebut. Ditambah dengan lapang dada dan berserah diri terhadap seluruh syariat yang dibawa Nabi, tidak bersedia menerima petunjuk selain dari cahaya lentera Nabi, dan tidak mencari kebenaran kecuali dari apa yang telah dibawa oleh Nabi.

Kedua adalah cinta yang bersifat fadlal atau sunnah, yaitu setelah kita mengikuti nabi dalam hal wajib di atas, selanjutnya kita mengikuti perilaku dan etika beliau, mengikuti petunjuk beliau, jalan beliau, menjalin interaksi yang harmonis dengan keluarga dan rekan-rekan Nabi.

Selain itu kita dituntut untuk mengikuti akhlak lahiriyah Nabi, seperti kezuhudan (asketis) beliau terhadap dunia dan kecintaan beliau pada akhirat, kedermawanan beliau, kealtuisan beliau (itsar--mendahulukan orang lain), sifat pengampun beliau, kesabaran beliau, tabah dalam menahan hal-hal yang menyakitkan dan kerendahan hati beliau.

Setelah itu kita juga harus mengikuti akhlak batiniyah Nabi, yaitu kesempurnaan rasa takut beliau pada Allah, cinta beliau pada Allah, kerinduan beliau untuk bertemu Allah, kerelaan hati beliau dengan takdir Allah, hati beliau yang selalu ingat kepada Allah, hati beliau yang tidak pernah mengandalkan beberapa sebab, lisan beliau yang terus-menerus menyebut nama Allah, beliau yang senantiasa bahagia bersama Allah, merasa nikmat ketika sendiri bersama Allah, ketika munajat kepada Allah, ketika berdoa, dan merasa nikmat ketika membaca kitab-Nya sambil tadabbur dan memikirkan setiap ayat yang beliau lantunkan. Kesimpulannya, akhlak Nabi adalah al-Qur'an, beliau meridhoi apa yang diridhoi oleh al-Qur'an dan membenci apa yang dibenci oleh al-Qur'an.15

Setelah kita mengetahui hakikat cinta di atas, kita tidak boleh serta merta menyebut orang-orang yang berteriak histeris sambil menangis ketika menyebut nama Nabi sebagai orang yang mencintai Nabi sepenuh hati. Tetapi kita lihat dulu bagaimana perilakunya sehari-hari, apakah sudah sesuai dengan tuntunan Rasul atau belum? Jangan sampai kita tertipu dengan air mata.

Wahidiyah Kurang Mengerti Arti Sebuah Tangis

Menangis dan tertawa merupakan salah satu bahasa universal untuk mengungkapkan kesedihan dan bahagia, walaupun manusia tinggal di negara yang berbeda-beda dan memiliki bahasa yang berbeda-beda pula, namun bahasa duka dan bahagia mereka sama, yaitu tangis dan tawa. Namun terkadang ada orang-orang yang menodai kesucian arti sebuah tangisan, mereka bahagia tapi air mata mereka menetes, itulah air mata buaya, sebagaimana tangisan saudara-saudara Nabi Yusuf. Setelah mereka berhasil mencelakakan Yusuf, sore harinya mereka datang menemui sang ayahanda, yaitu Nabi Ya'qub sambil menampakkan raut muka sedih dan menangis:

وجاءوا أباهم عشاء يبكون. قالوا ياءبانا إنا ذهبنا نستبق وتركنا يوسف عند متاعنا فأكله الذئبصلى وما أنت بمؤمن لنا ولو كنا صادقين. وجاءوا على قميصه بدم كذبج قال بل سولت لكم أنفسكم أمرا فصبر جميل والله المستعان على ما تصفون.

"Kemudian mereka datang kepada ayah mereka di sore hari sambil menangis. Mereka berkata : 'Wahai Ayah Kami, sesungguhnya kami pergi berlomba-lomba dan kami tinggalkan Yusuf di dekat barang-barang kami, lau dia dimakan serigala, dan kamu sekali-kali tidak percaya kepada kami, sekalipun kami adalah orang-orang yang benar'. Mereka datang membawa baju gamisnya (yang berlumuran) dengan darah palsu. Ya'qub berkata: 'sebenarnya dirimu sendirilah yang memandang baik perbuatan (buruk) itu, maka kesabaran yang baik itulah (kesabaranku). Dan Allah sajalah yang dimohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kamu ceritakan." (QS. Yusuf : 16-18)

Tidak semua tangis itu baik, bahkan dari sekian banyak jenis tangis ada tangis yang dilarang, seperti menangisi mayat seolah-olah tidak terima dengan takdir Tuhan. Tangis yang demikian bukan sekedar tangis kasih sayang seperti tangis Nabi ketika putra beliau sayyid Ibrahim wafat, tetapi tangis yang melampaui batas, seolah-olah ingin mendemo Tuhan, sambil berteriak-teriak histeris menyebut jasa-jasa sang mayat, menampar pipi, menyobek-nyobek pakaian dan ekspresi kekecewaan yang lain. Karena ketika tertimpa musibah, baik kematian atau yang lain, yang harus kita lakukan adalah bersabar dan berserah diri pada keputusan Allah. Ratap tangis yang berlebihan telah dilarang oleh Nabi, dalam sebuah hadits beliau bersabda:16

فإذا وجب فلا تبكين باكية

"Ketika kematian menjemput, maka perempuan yang menangis jangan lagi menangis".

Selain itu, ada juga jenis tangis yang dianjurkan seperti tangis orang-orang yang merasa takut dengan murka Allah, menyesali atas kenistaan dirinya karena telah banyak melakuakan dosa dan tangis-tangis sejenisnya. Al-Qur'an dan al-Hadits seringkali menyampaikan pujian pada orang-orang yang hatinya lembut dan mudah menitikkan air mata:

ويخرون للأذقان يبكون ويزيدهم خشوعا

"Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyu'". (QS. Al-Isra' : 109)

أفمن هذا الحديث تعجبون. وتضحكون ولاتبكون

"Maka apakah kamu merasa heran terhadap pemberitaan ini? Dan kamu menertawakan dan tidak menangis?" (QS. An-Najm : 59-60)

Dalam sebuah hadits diceritakan bahwa suatu hari Nabi meminta Ibnu Mas'ud untuk membacakan al-Qur'an pada beliau. Karena Ibnu Mas'ud merasa kurang pantas membacakan al-Qur'an pada Nabi lalu beliau berkata. "Wahai Rasulullah! Apakah aku pantas membacakan al-Qur'an untukmu, sedangkan al-Qur'an itu diturunkan kepadamu?". Nabi lantas bersabda, "Aku ingin mendengarkan al-Qur'an dari orang lain". Ibnu Mas'ud kemudian membacakan surat an-Nisa', dan ketika ia sampai pada ayat

"Maka bagaimanakah (halnya dengan orang kafir nanti), apabila kami mendatangkan seseorang saksi (rasul) dari tiap-tiap umat dan kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (sebagai umatmu)." (QS. An-Nisa': 41)

Nabi tiba-tiba berkata, "Sudah! Sekarang sudah cukup!". Nabi lantas pergi dan aku lihat kedua mata beliau menitikkan air mata.

Dalam sebuah khutbahnya, Nabi juga pernah menyatakan, "Seandainya kalian mengetahui apa yang telah aku ketahui, maka kalian akan sedikit tersenyum dan banyak menangis". Mendengar khutbah itu, para sahabat menutupi muka dan terdengar bunyi sengau tangis dari mereka.17

Di antaranya lagi adalah sabda Nabi:

إن هذا القرأن نزل بحزن, فإذا قرأتموه فابكوا, فإن لم تبكوا فتباكوا

"Sesungguhnya al-Qur'an ini diturunkan dalam suasana sedih. Ketika engkau membaca al-Qur'an maka menangislah, dan jika kalian tidak bisa menangis maka berusahalah untuk menangis".

عينان لا تمسهما النار : عين بكت من خشية الله, وعين باتت تحرس فى سبيل الله

"Ada dua mata yang tidak akan disentuh oleh api neraka; mata yang menangis karena takut pada Allah dan mata yang sepanjang malam berjaga untuk menegakkan agama Allah".

Dan masih banyak Hadits-hadits lain yang menunjukkan keutamaan air mata. Sering kita melihat orang meneteskan air mata di tengah melakukan ritual ibadah. Orang-orang yang shaleh akan menangis ketika perasaan takut kepada Allah bergejolak dalam hatinya. Sebagaimana Abu Sulaiman pernah mengatakan, "Air mata timbul dari perasaan takut, sedangkan perasaan timbul dari rindu dendam".18

Tangis penyesalan yang sebenarnya yaitu tangis yang mampu menggerakkan hati kita untuk bangkit melakukan amal yang lebih baik. Jika kita menyesali masa lalu, namun ternyata perilaku kita tidak ada perubahan ke yang lebih baik, tidak berusaha untuk mengganti amal-amal yang telah kita lakukan dan tidak berusaha melakukan ibadah yang harus dilakukan hari ini dengan sebaik mungkin, maka tangisan itu ghurur (tipuan) belaka.

Abu Sulaiman ad-Daroni pernah mengatakan, "Yang disebut tangis bukanlah memeras mata, melainkan yang disebut tangis ialah meninggalkan sesuatu yang sedang engkau tangisi (baca: maksiat)". Selanjutnya Abu Sulaiman mengingatkan kita agar tidak mudah tertipu dengan air mata, sebab saudara Nabi Yusuf juga menangis ketika mendatangi ayah mereka, namun sebenarnya mereka bangga karena rencana mereka untuk menyingkirkan Nabi Yusuf telah berhasil.19

Sebab itulah, ketika Rabiah al-Adawiyah mendengar seorang lelaki sedang mengatakan, "wa ahzanah! (aduhai sedihnya aku!)", lalu Rabiah mengatakan, "Engkau tidak pantas berkata demikian, yang lebih pantas engkau mengatakan, "Aduhai ucapanku wa ahzanah". Rabiah meneruskan nasihatnya, "Jika engkau benar-henar sedih maka engkau tidak akan sempat untuk bernafas."20

Berdasarkan penjelasan di atas, air mata yang menunjukkan kesedihan dapat kita bagi menjadi tiga kategori. Pertama air mata buaya, yaitu air mata yang keluar dari orang-orang yang tidak berusaha memperbaiki amal perbuatannya pada masa 1alu. Kedua air mata shodiqin, yaitu tangis yang disertai dengan kesungguhan dan tidak ekstrim dalam beramal, serta berusaha memanfaatkan waktu yang masih ada dengan sebaik mungkin untuk mengganti kesalahan-kesalahan pada masa lalu. Ketiga air mata shodiqin yang Iain, yaitu mereka yang menangis ketika waktu mereka terbuang sia-sia, ketika mereka lalai, ketika mereka cenderung dengan kepentingan pribadi dan cenderung untuk memenuhi syahwat.

Air mata para shiddiqin bukanlah hal yang tak berkesudahan, sebab kesedihan itu akan hilang ketika mereka tidak lagi tergantung dengan apa pun dan tidak ada lagi yang membuat hati mereka gundah. Orang-orang yang wushul, tidak akan pernah lagi merasakan gelisah dan takut. Dalam al-Qur'an disebutkan:

ألا إن أولياء الله لا خوف عليهم ولا هم يحزنون

"Ingatlah, Sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati". (QS. Yunus : 62)

Karena penyebab dari kesedihan adalah rasa kehilangan sesuatu atau sesuatu yang diharapkan tidak tercapai. Oleh karenanya orang-orang yang telah mendapatkan Allah tidak akan pernah merasa kehilangan. Mereka kemudian berucap:

وقالوا الحمد لله الذي أذهب عن الحزن

"Dan mereka berkata: "Segala puji bagi Allah yang Telah menghilangkan duka cita dari kami." (QS. Fatir : 34)

Dalam maqom ini air mata akan berhenti menetes, di surga tidak ada lagi air mata.21

Selain itu, kesedihan yang tersirat dalam air mata juga harus sampai meresap dalam hati. Harus ada persesuaian antara lahir dan batin. Jika anggota fisik kita menampakkan kesedihan, namun kesedihan itu sama sekali tidak dirasakan oleh hati, maka hal tersebut merupakan khusu'nya orang-orang munafik. Orang-orang seperti ini pernah ditegur oleh Umar ra, yaitu ketika ia melihat orang yang berjalan sambil menundukkan kepala. Umar ra kemudian melempar orang tersebut dengan susu dan mengatakan, "Angkatlah kepalamu! Sesungguhnya khusu' itu berada di sini! (sambil menunjuk ke arah hati beliau)".22

Itulah tangis kesedihan yang sebenarnya, tangis yang disertai dengan rasa penyesalan, tidak ingin mengulang dosa-dosa masa lalu, dan kesedihan tersebut meresap sampai ke dalam hati. Lalu pertanyaannya sekarang adalah, bagaimana dengan air mata yang ditumpahkan secara masal dan terorganisir sebagaimana yang dilakukan oleh Wahidiyah dalam mujahadah qubro?

Jika kita mengatakan air mata itu keluar karena takut kepada Allah maka kita berat untuk menerimanya, sebab seperti yang telah dijelaskan di atas bahwa tangisan yang sebenarnya adalah tangisan yang mampu merubah pelakunya menjadi lebih baik, tidak lagi melakukan maksiat kepada Allah. Padahal sekarang kita dapat melihat dengan mata kita sendiri bagaimana keadaaan orang-orang yang melakukan tangis secara masal tersebut.

Tanpa mereka sadari di tengah mereka meratap, mereka telah melakukan maksiat yang sebenarnya tidak boleh dilakukan, yaitu berbaurnya laki-laki dan perempuan yang bukan mahram.23 Da1am sebuah hadits Nabi pernah menyebutkan, "Aku tidak meninggalkan fitnah yang lebih membahayakan bagi seorang lelaki dibandingkan dengan para wanita". Da1am Hadits lain beliau bersabda, "Jauhkanlah antara laki-laki dan wanita".24

Air mata yang ditumpahkan secara masal dan terorganisir sangat berpotensi menimbulkan riya'. Dia ingin memperlihatkan pada orang lain bahwa ia adalah orang yang khusyu' dan lembut hatinya. Ama1 yang demikian inilah yang sangat dilarang oleh para ulama, bahkan Fudlail bin Iyadl pernah mengatakan, "Meninggalkan amal karena manusia adalah riya' dan beramal karena manusia adalah syirik. Sedangkan ikhlas adalah ketika Allah menyelamatkanmu dari keduanya".25

Para ulama sering kali menjelaskan bahwa tangis yang dilakukan ketika sendiri lebih aman dari hal-hal yang menyebabkan amal kita menjadi rusak, tidak ikhlas karena Allah. Salah satu pijakan mereka adalah Hadits yang menjelaskan tentang tujuh orang yang akan mendapatkan tempat berteduh ketika tiada lagi tempat berteduh selain dari Allah. Salah satu dari ketujuh orang tersebut ialah orang yang mengingat Allah dalam sepi, kemudian kedua matanya menitikkan air mata.

Jika Anda ingin mengetahui bagaimana tanda orang-orang yang riya', Anda bisa menyimak tiga ciri yang pernah disampaikan oleh Ali bin Abi Thalib ra. Ciri-ciri tersebut ialah:26

  • Bermalas-malasan ketika sedang sendiri
  • Bergairah ketika sedang bersama dengan orang lain
  • Lebih banyak melakukan amal ketika mendapatkan pujian namun ketika dicela dia jarang-jarang melakukan amal"

Sekarang mari kita coba menyimak bagaimana pentingnya menyembunyikan air mata dan bagaimna yang dilakukan oleh para ulama ketika melihat orang yang menangis dalam keramaian.

Suatu ketika Abu Umamah al-Bahili melihat seorang sedang melakukan Sujud dalam masjid sambil menangis. Abu Umamah kemudian memanggilnya dan berkata, "Bagaimana engkau ini! Sebaiknya hal ini engkau lakukan saja di rumahmu". Muhammad bin al-Mubarok ash-Shuwari juga pernah mengatakan, "Tampakkanlah sikap diam pada malam hari, sebab hal itu lebih baik dari pada menampakkan diam pada siang hari. Jika diam pada waktu siang adalah untuk makhluk maka diam pada malam hari adalah untuk Tuhan semesta Alam".27

Abdullah bin Hubaib juga pernah bercerita, "Suatu ketika aku melihat Muhammad bin Ka'ab sedang bercerita, kemudian tiba-tiba terdengar suara seorang laki-laki sedang menangis. Muhammad bin Ka'ab lantas menghentikan ceritanya dan berkata, " Siapa tadi yang menangis?" Orang-orang dalam pertemuan itu menjawab, "Dia maula bani fulan". Seolah-olah Muhammad bin Ka'ab tidak senang mendengar tangisan itu.28

Itulah ulama-ulama terdahulu, mereka berusaha menyembuhkan tangisan mereko dan bukan malah dipublikasikan. Mungkin kita perlu meniru bagaimana cara mereka menutup-nutupi tangisan itu serapi mungkin agar tidak diketahui oleh orang lain. Mungkin bisa dengan meniru cara Ayub. Ketika menangis ia memegangi hidungnya dan berkata, "Terkadang penyakit flu ini menyerang". Lantas ketika tangis itu kembali terasa mendesak-desak dalam dada, ia berusaha untuk menenangkan tangis itu dan kembali mengatakan, "Orang kalau sudah tua, biasanya sering meludah".29 Atau dengan cara Abi Sail. Saat membaca Hadits atau al-Quran biasanya ia menangis, namun ketika tangis itu terasa ingin tumpah maka dengan segera ia pura-pura tersenyum.30

Para ulama tersebut lebih senang jika tangisan itu tidak diketahui oleh siapa pun termasuk istri-isr\tri mereka. Diceritakan oleh Muhammad bin Wasi', "Aku pernah melihat seorang suami yang tidur satu bantal dengan istrinya. Ketika itu air mata sang suami itu mengalir membasahi pipi, sedangkan sang istri tidak mengetahui bahwa suaminya telah menangis. Aku juga pernah melihat seorang laki-laki pergi meninggalkan shof dan air matanya menetes membasahi pipi, namun orang di sampingnya tidak mengetahui keadaan ini". Muhammad bin Wasi' juga pernah bercerita bahwa dia pernah melihat seorang lelaki menangis di sisi istrinya selama dua puluh tahun, namun tangisan itu tidak pernah diketahui oleh sang istri.31

Mereka lebih senang untuk menyembunyikan tangis tersebut dan kalau perlu suara tangis itu pun mereka sembunyikan, seperti yang diceritakan oleh Abdullah bin Isa, "Ayahku pernah bercerita bahwa suatu ketika Hasan bin Abi Sinan mendatangi masjid Malik bin Dinar. Ketika Malik berbicara, Hassan menangis sampai air matanya membasahi kedua telapak tangannya, namun sama sekali tidak terdengar suara tangis darinya".32 Mereka berusaha untuk menyembunyikan tangis tersebut karena takut, sebab kelak pada hari kiamat mereka akan ditanya apa maksud dari air mata kalian? Karena riya'kah atau karena Allah?

1 Ponpes Kedunglo Kediri Memelihara Budaya Islam, Republika Online, 25 April 2003

2 Jama'ah Perjuangan Wahidiyah, Pedoman Pokok-pokok Ajaran Wahidiyah, hlm. 48.

3 Ibid.

4 Abu l-Fida' Ismail bin Umar bin Katsir al-Qurosyiy, Tafsir al-Qur'anul adzim, vol. VI, hlm. 457, http://www.qurancomplex.com

5 Syamsuddin al-Qurthubi, Tafsir al-Qurthubti, vol. 14, hlm. 232, http://www.waqfeya.net/shamela

6 Wizarotul Auqof wa Syu'un al-Islamiyah, al-Mausu'ah al-Islamiyah, vol.27, hlm.236, Maktabah Jamiul Fiqhil Islami.

7 Ibid, vol.27, hlm. 237-238

8 Syihabuddin Muhammad ibnu Abdillah al-Husaini al-Alusi, Ruhul Ma'ani fi Tafsiril Qur'an al-Adzim was Sab'il Matsani, vol. XVI, hlm. 214, http://www.altafsir.com

9 Kata Hati Sang Tulisan, Luforsa yang Selalu tetap Berusaha tabah dalam menjalani hidup ini, Inginnya Aku Mencintaimu, Ya Rasulullah

10 Syarofuddin Yahya an-Nawawi, Syarah an-Nawawi 'ala Muslim, vol. I, hlm. 124. http://www.al-islam.com

11 Ibid.

12 Abu Hamid Al-Ghozaly, Ihya' Ulumud Dien, vol. III, hlm. 424, http://www.alwarraq.com

13 Ibnu Rojab, Fathul Bari, vol. I, hlm. 22, http://dorar.net

14 Ibnu Ajibah, Iqodzul Himam, vol. I, hl. 129, http://www.alwarraq.com

15 Ibnu Rojab, op. cit., vol. I, hl. 24-25, http://dorar.net

16 Syarofuddin Yahya an-Nawawi, al-Majmu', vol. V, hlm. 307, http://www.waqfeya.net/shamela

17 Syihabuddin Yahya an-Nawawi, Riyadus Sholihin, vol. I, hlm. 66-67, http://www.alwarraq.com

18 Abu Hamid al-Ghozaly, op. ct. vol. III, hlm. 263

19 Ibnu Ajibah, op. ct., vol. H, hlm. 91

20 Ibid.

21 Ibid.

22 Abu Abdillah Muhammad bin Muhammad bin Muhammad al-Abdari, al-Madkhol, vol. I, hlm. 74, http://www.al-islam.com

23 Abi Bakar, Sayyid Bakri ibn Sayyid Muhammad Syatho, I'anathut Tholibin, vol. I, hlm. 313, http://www.waqfeya.net/shamela

24 Ibnu Qoyyim al-Juziyah, ath-Thuruq al-Hukmiyah, hlm. 239, Jami'ul Fiqhil Islami

25 Syarofuddin Yahya an-Nawawi, Adzkar, vol. I, hlm. 7, http://www.waqfeya.net/shamela

26 Adz-Dzhahabi, al-kabair, vol. I, hlm. 53, http://www.alwaruq.com

27 Ibid.

28 Ibnu Abi Dunya, ar-Riqoh wal Buka', vol. I, hlm. 159, http://www.alsunnah.com

29 Ibid, vol. I, hlm. 161

30 Ibid, vol. I, hlm. 163

31 Ibid, vol. I, hlm. 176

32 Ibid, vol. I, hlm. 176



Hak mencipta adalah kekuasaan Allah SWT.
Ketikan dan rancangan: pesantrennuha@gmail.com